Kamis, 14 Maret 2024

Pythagoras, the Flat Earther

With all humility, I invite you to traverse corridors of thought that you may have never visited before. Let us begin with a name that is no stranger in the world of science, Pythagoras. A philosopher and mathematician whose theorem has become one of the cornerstones of our mathematical education.

But have you ever questioned how this theorem could be applied in a broader context? What if we viewed it from a perspective that you might have never considered before?

The Pythagorean Theorem states that in a right-angled triangle, the square of the length of the hypotenuse (the longest side) is equal to the sum of the squares of the lengths of the other two sides. In mathematical notation, this is expressed asas

Now, let's imagine a world where the surface we tread upon is not curved, but flat. In this world, a straight line is not just the shortest distance between two points, but also a representation of unadulterated truth, unwarped by our perception of space and time.

In this context, the Pythagorean Theorem is not just a mathematical formula, but also a metaphor for clarity of thought. It teaches us that there are fundamental principles that remain constant, no matter from which angle we view them.

I am not asserting that the Earth is flat—no, that is not my intention. I am merely inviting you to think, to ponder the possibilities that lie beyond what we have accepted as absolute truth.

When we consider concepts like gravity, explained by Newton, and relativity, revealed by Einstein, we begin to see that there are many ways to understand the forces shaping our universe. But have we ever truly considered that there might be other alternatives that we have not fully explored?

In the same spirit, I invite you to respect differing views. We are all in search of truth, but truth itself is a journey, not a destination.

I believe that by keeping our minds open and by valuing different perspectives, we can approach a deeper understanding of the universe we inhabit.



Pythagoras, sang Flat Earth

Dengan segala kerendahan hati, saya mengajak Anda untuk menelusuri lorong-lorong pikiran yang mungkin belum pernah Anda singgahi sebelumnya. Mari kita mulai dengan sebuah nama yang tidak asing lagi di dunia ilmu pengetahuan, Pythagoras. Seorang filsuf dan matematikawan yang teoremanya telah menjadi salah satu batu penjuru dalam pendidikan matematika kita.

Namun, apakah Anda pernah mempertanyakan bagaimana teorema ini dapat diterapkan dalam konteks yang lebih luas? Bagaimana jika kita melihatnya dari perspektif yang berbeda, dari sudut pandang yang mungkin tidak pernah Anda pertimbangkan sebelumnya?

Teorema Pythagoras menyatakan bahwa dalam segitiga siku-siku, kuadrat panjang hipotenusa (sisi terpanjang) sama dengan jumlah kuadrat panjang kedua sisi lainnya. Dalam notasi matematika, ini ditulis sebagai 

Sekarang, mari kita bayangkan sebuah dunia di mana permukaan yang kita pijak tidak melengkung, tetapi datar. Dalam dunia ini, garis lurus tidak hanya merupakan jarak terpendek antara dua titik, tetapi juga representasi dari kebenaran yang tidak terdistorsi oleh persepsi kita tentang ruang dan waktu.


Dalam konteks ini, teorema Pythagoras tidak hanya sekedar rumus matematika, tetapi juga sebuah metafora untuk kejernihan pemikiran. Ia mengajarkan kita bahwa ada prinsip-prinsip dasar yang tetap berlaku, tidak peduli dari mana kita memandangnya.

Saya tidak mengatakan bahwa Bumi ini datar—tidak, itu bukan tujuan saya. Saya hanya mengundang Anda untuk berpikir, untuk merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di luar apa yang telah kita terima sebagai kebenaran mutlak.

Ketika kita mempertimbangkan konsep-konsep seperti gravitasi, yang dijelaskan oleh Newton, dan relativitas, yang diungkapkan oleh Einstein, kita mulai melihat bahwa ada banyak cara untuk memahami kekuatan yang membentuk alam semesta kita. Namun, apakah kita pernah benar-benar mempertimbangkan bahwa mungkin ada alternatif lain yang belum kita eksplorasi sepenuhnya?


Dalam semangat yang sama, saya mengajak Anda untuk menghormati pandangan yang berbeda. Kita semua mencari kebenaran, tetapi kebenaran itu sendiri adalah sebuah perjalanan, bukan destinasi.


Saya percaya bahwa dengan menjaga pikiran kita terbuka dan dengan menghargai pandangan yang berbeda, kita dapat mendekati pemahaman yang lebih dalam tentang alam semesta yang kita huni ini.

Senin, 11 Maret 2024

"Rob Skiba: The Controversial Thinker and His Mysterious Death"

Genesis 6:4 (KJV)  There were giants in the earth in those days; and also after that, when the sons of God came in unto the daughters of men, and they bare children to them, the same became mighty men which were of old, men of renown.

Rob Skiba was a figure who garnered considerable attention and influence within certain communities, notably among flat Earth proponents and specific Christian groups. He was recognized for his unconventional views on the world and cosmos, as well as his involvement in various media projects aimed at exploring and explaining these perspectives.

An award-winning documentary filmmaker and bestselling author, Skiba's works delved into topics such as ancient Nephilim theories, Nimrod, and other conspiracy theories related to UFOs and extraterrestrial beings. He was an international keynote speaker at conferences discussing these subjects. Among his notable books are "Babylon Rising: And The First Shall Be Last" and "Archon Invasion: The Rise, Fall and Return of the Nephilim."

Additionally, Skiba and his wife Sheila founded King’s Gate Media, working on the development and production of a sci-fi internet TV series titled "SEED." This series aims to blend science fiction storytelling with the theories Skiba believed in, creating a work that is not only entertaining but also educative about alternative worldviews.

Regrettably, Skiba passed away from COVID-19 after battling the virus since August. He was known for his skepticism towards the COVID-19 vaccine and some treatments for the disease. Before his passing, he expressed his concerns about vaccines through social media posts, reflecting his critical stance on the pandemic response by governments and the pharmaceutical industry.

Skiba's death left many questions and discussions among his followers and the broader community. To some, he was a great teacher and a change-maker, while to others, he represented the dangers of rejecting modern science and medicine. Nonetheless, his legacy is significant, and his influence will continue to be discussed and analyzed for a long time.

In remembering Rob Skiba, it's important to consider the complexity of his character and views. While some of his ideas and theories may seem extreme or unpopular, he remains a figure who sparked discussion and critical thinking on a variety of topics, from flat Earth theory to interpretations of ancient texts. Skiba may be gone, but the dialogue he initiated continues, encouraging us to always question and explore the world around us with an open mind.

Rob Skiba : Pemikir yang Kontroversional dan Kematiannya yang Penuh Misteri

Genesis 6:4 (KJV)  There were giants in the earth in those days; and also after that, when the sons of God came in unto the daughters of men, and they bare children to them, the same became mighty men which were of old, men of renown.



Rob Skiba adalah sosok yang cukup kontroversial dan berpengaruh dalam beberapa komunitas, terutama di kalangan penganut teori Bumi datar dan komunitas Kristen tertentu. Dia dikenal karena pandangannya yang tidak konvensional tentang dunia dan semesta, serta keterlibatannya dalam berbagai proyek media yang mencoba mengeksplorasi dan menjelaskan pandangan-pandangannya tersebut.

Skiba adalah seorang pembuat film dokumenter yang memenangkan penghargaan dan penulis buku terlaris, dengan beberapa karyanya yang mencakup topik-topik seperti teori Nephilim kuno, Nimrod, dan teori konspirasi lainnya yang berkaitan dengan UFO dan alien. Dia juga merupakan pembicara kunci internasional di konferensi-konferensi yang membahas topik-topik ini. Salah satu bukunya yang terkenal adalah "Babylon Rising: And The First Shall Be Last" dan "Archon Invasion: The Rise, Fall and Return of the Nephilim".

Selain itu, Skiba dan istrinya Sheila adalah pendiri King’s Gate Media, yang sedang mengerjakan pengembangan dan produksi seri TV internet fiksi ilmiah yang berjudul "SEED". Seri ini bertujuan untuk menggabungkan narasi fiksi ilmiah dengan teori-teori yang Skiba yakini, menciptakan sebuah karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik penonton tentang pandangan dunia alternatif.

Sayangnya, Skiba meninggal karena COVID-19 setelah berjuang melawan virus tersebut sejak Agustus. Dia dikenal skeptis terhadap vaksin COVID-19 dan beberapa pengobatan penyakit tersebut. Sebelum meninggal, dia sempat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap vaksin melalui postingan di media sosial, yang menunjukkan pandangannya yang sangat kritis terhadap penanganan pandemi oleh pemerintah dan industri farmasi.


KematianSkiba menyisakan banyak pertanyaan dan diskusi di antara para pengikutnya dan komunitas yang lebih luas. Bagi beberapa orang, dia dianggap sebagai guru yang hebat dan pembawa perubahan, sementara bagi yang lain, dia adalah contoh dari bahaya penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan pengobatan modern. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dia telah meninggalkan warisan yang cukup besar dan pengaruh yang akan terus dibicarakan dan dianalisis untuk waktu yang lama.

Dalam mengenang Rob Skiba, penting untuk mempertimbangkan kompleksitas karakter dan pandangannya. Meskipun beberapa ide dan teorinya mungkin tampak ekstrem atau tidak populer, dia tetap menjadi sosok yang memicu diskusi dan pemikiran kritis tentang berbagai topik, dari teori Bumi datar hingga interpretasi teks-teks kuno. Skiba mungkin telah pergi, tetapi dialog yang dia mulai masih terus berlanjut, mendorong kita untuk selalu mempertanyakan dan mengeksplorasi dunia di sekitar kita dengan pikiran yang terbuka.

Menjelajahi Indonesia 2, Situs Peradaban Kuno


rekan-rekaan sekalian, di artikel sebelumnya, saya menceritakan rencana penelitian yang ingin saya lakukan dalam menjelajah nusantara, semua saya jelaskan secara teknis, namun ada hal yang terluput, yang menjadi salah satu tujuan lain saya menjelajahi Nusantara. 

Seperti yang rekan-rekan tau, Indonesia adalah tanah yang penuh dengan kekayaan, dan di dalamnya terdapat misteri yang tertutup, terdapat situs-situs bersejarah yang penuh dengan misteri dan masih menyisakan tanda tanya besar sampai hari ini. 

Sebagai seorang flat earthers, saya yakin bahwah banyak diantara situs-situs bersejarah itu merupakan sisa-sisa peninggalan kuno yang berhubungan dengan teori bumi datar yang kita percayai

Karna itu, selain pengukuran teknis yang ingin kami lakukan, kami juga ingin , setidaknya singgah sejenak kesitus-situs tersebut, dan jika beruntung, kami bisa mendapatkaan sedikit jejak kebenaran yang telah lama tertimbun

Demikian akan saya beritahukan, sebagian situs-situs yang hendak kami kunjungi

I. Sumatera

1. Kerajaan Melayu Kunodi Jambi, di mana situs arkeologi Muaro Jambi menanti untuk dijelajahi. Di sini, kita akan mencoba memahami bagaimana masyarakat kuno memandang dunia mereka. Apakah orientasi bangunan dan artefak yang ditemukan memberikan petunjuk tentang pemahaman mereka terhadap bumi?


2. Gunung Padang di Sumatera Barat akan menjadi titik observasi kita. Situs megalitik ini, yang sering dibandingkan dengan piramida Giza, mungkin menyimpan rahasia tentang teknologi dan astronomi kuno. Kita akan mengukur dan mempelajari susunan batu-batunya, mencari hubungan antara situs ini dengan langit yang melingkupi.


II. Jawa

Di Jawa, kita akan mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan. Kedua kompleks candi ini tidak hanya merupakan karya arsitektur yang mengagumkan, tetapi juga mungkin mencerminkan pemahaman mendalam tentang kosmologi. Kita akan meneliti relief dan struktur candi, mencari petunjuk tentang bagaimana masyarakat kuno memahami posisi mereka dalam alam semesta.


III. Kalimantan

Di Kalimantan, kita akan mengeksplorasi Situs Megalitikum dan Gua-gua Karst.

Struktur batu besar dan lukisan gua kuno mungkin memberikan wawasan tentang kepercayaan dan praktik spiritual yang berkaitan dengan bumi dan langit.

III. Bali dan Nusa Tenggara

Pura Besakih dan Gunung Agung di Bali,

serta Desa Wae Rebo dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara, 

yang menjadi saksi bisu upacara dan mitologi yang kaya. Kita akan mencari tahu bagaimana tempat-tempat ini terkait dengan pemahaman kosmologi dan bumi datar.

IV. Sulawesi

Di Sulawesi, ada Taman Nasional Lore Lindu dan Waruga Sawangan akan menjadi fokus kita. 


Ukiran megalit dan kuburan batu kuno ini mungkin menyimpan kunci untuk memahami pandangan dunia masyarakat Minahasa.

V. Maluku dan Papua Barat

Benteng Belgica dan Pulau Run di Maluku


 Serta Cenderawasih Baydan Raja Ampat di Papua Barat

akan menjadi titik akhir perjalanan kita. Kita akan menelusuri kisah-kisah lokal dan keanekaragaman hayati yang mungkin terkait dengan konsep bumi datar.

Dalam setiap langkah perjalanan ini, kita akan menggunakan metode ilmiah untuk mengumpulkan data dan membuat observasi. Kita akan menghormati setiap penemuan dan mengajak pembaca untuk berpikir kritis. Saya tidak akan mengklaim kebenaran mutlak, tetapi akan menyajikan bukti dan observasi yang kita kumpulkan dengan cara yang menghargai keberagaman pandangan.

VI. Kesimpulan

Perjalanan ini adalah undangan terbuka bagi siapa saja yang ingin memperluas wawasan dan mempertanyakan apa yang kita anggap sebagai kebenaran. Mari kita bersama-sama menelusuri jejak peradaban dan mempertajam pemahaman kita tentang bumi, dengan pikiran yang terbuka dan rasa hormat terhadap semua pandangan.

Saya berharap artikel ini tidak hanya menarik bagi Anda untuk dibaca, tetapi juga menjadi titik awal untuk diskusi yang lebih luas dan mendalam. Mari kita mulai perjalanan pengetahuan ini dengan semangat untuk belajar dan menghargai kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Indonesia.

Exploring Indonesia 2, Ancient Civilizations Site

Dear fellow explorers, in the previous article, I shared the research plan I wish to undertake while traversing the archipelago, detailing everything technically. However, there was an aspect I overlooked, which is another reason for my journey across the Nusantara.

As you all know, Indonesia is a land brimming with riches, within which lie concealed mysteries, historical sites full of enigmas that still leave us with significant unanswered questions to this day.

As a flat earther, I am convinced that many of these historical sites are remnants of ancient relics related to the flat earth theory we believe in.

Therefore, in addition to the technical measurements we wish to conduct, we also intend to at least briefly visit these sites, and with some luck, we may uncover traces of truth that have long been buried.

I will now inform you of some of the sites we plan to visit.


I. Sumatra:

1. Jambi's Ancient Malay Kingdom

where the archaeological site of Muaro Jambi awaits exploration. Here, we will attempt to understand how ancient societies viewed their world. Do the orientations of buildings and artifacts found provide clues about their understanding of the earth?

2. Gunung Padang


in West Sumatra will be our observation point. This megalithic site, often compared to the Giza pyramids, may hold secrets about ancient technology and astronomy. We will measure and study its stone arrangements, seeking connections between this site and the encompassing sky.

II. Java

Borobudu and Prambanan temples. These magnificent architectural works are not just awe-inspiring but may also reflect a deep understanding of cosmology. We will examine the temples' reliefs and structures, looking for clues on how ancient societies understood their place in the universe.


III. Kalimantan:

In Kalimantan, we will explore Megalithic Sites and Karst Caves. Large stone structures and ancient cave paintings may provide insights into beliefs and spiritual practices related to the earth and sky.



III. Bali and Nusa Tenggara 

Pura Besakih and Mount Agung in Bali



along with Wae Rebo Village and Mount Rinjani in Nusa Tenggara


will bear witness to rich ceremonies and mythology. We will find out how these places are connected to cosmology and the flat earth concept.

IV. Sulawesi

In Sulawesi, Lore Lindu National Park and Waruga Sawangan will be our focus. Mysterious megalith carvings and ancient stone graves may hold the key to understanding the Minahasa people's worldview.



V. Maluku and West Papua

Fort Belgica, Run Island in Maluku


Cenderawasih Bay, and Raja Ampat in West Papua


will mark the end of our journey. We will trace local stories and biodiversity that may be related to the flat earth concept.

Throughout each step of this journey, we will employ scientific methods to gather data and make observations. We will respect every discovery and invite readers to think critically. I will not claim absolute truth but will present the evidence and observations we collect in a way that respects the diversity of views.

VI. Conclusion


This journey is an open invitation to anyone who wants to expand their horizons and question what we consider as truth. Let us together trace the footsteps of civilizations and sharpen our understanding of the earth, with an open mind and respect for all viewpoints.

I hope this article not only engages you to read but also serves as a starting point for broader and deeper discussions. Let us begin this journey of knowledge with a spirit of learning and appreciation for the rich history and culture that Indonesia holds.

Pythagoras, the Flat Earther

With all humility, I invite you to traverse corridors of thought that you may have never visited before. Let us begin with a nam...